Tuesday, September 23, 2008

Sunday, September 21, 2008

hadiah buat teman dunia dan akhirat


(ingatlah) tatkala Para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini).” (Al Kahfi. 10)

Saturday, September 20, 2008

istikharah sumber kesuksesan hidup

Diriwayatkan dari Jabir,dia bercerita bahwa Rasulullah mengajarkan shalat sunnat istikharah (meminta petunjuk)kepada kami dalam segala hal.

Sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surat dan Al-Qur'an,seraya berkata :

Sesuatu hal,maka hendaklah ia mengerjakan shalat dua rakaat,selain shalat fardhu.Kemudian hendaklah ia berdoa:

"Ya Allah,sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuan-Mu.Aku memohon agar diberi kekuatan dengan kekuatan-Mu.Aku memohon kemurahan yang sangat luas,karena sesungguhnya Engkau berkuasa,sedangkan aku tidak.Engkau Maha Mengetahui,sedang aku tidak dan Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib.Ya Allah,jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut jenis perkaranya)baik bagiku,bagi agamaku,bagi kehidupanku saat ini dan masa depan,maka mudahkanlah ia bagiku.Kemudian berkahilah ia bagiku.Sedang apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagki,bagi agamaku,bagi kehidupanku saat ini dan masa depanku,maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya.Berikanlah kepadaku kebaikan dimanapun adanya dan jadikanlah aku orang yang ridha dengan pemberian-Mu itu."(HR.Bukhari)Wallahualam Bishowab...

Sunday, September 14, 2008

Kenapa pahala tidak berbentuk harta ye..?

Pernah kita bertanya pada diri sendiri :
  • Mengapa Allah tidak mewujudkan pahala berupa harta? Kenapa harus menunggu Hari Akhirat? Allah kan Maha Kuasa (Al-Qâdir), Maha Kaya (Al-Ghaniyy) dan Maha Pengasih (Ar-Rahmân).
  • Tidakkah lebih enak dan bersemangat bila setelah shalat, di hadapan kita langsung terbentang untaian mutiara sebagai ganjaran shalat kita?
  • Bukankah asa untuk beramal akan meningkat kalau kita sedekah Rp 10.000,- maka serta merta kita mendapat balasan Rp 100.000,- (bila dilipatgandakan 10x) sampai dengan Rp 7.000.000,- (bila diganjar 700x) bahkan lebih?

    Hal ini sebagaimana firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2] : 261)
  • Kalau kita waqaf untuk masjid, otomatis menjadi istana megah yang menjulang tinggi serta bertahtakan intan, berlian, zamrud dan yaqut.
  • Jika kita mendapat cobaan misalnya sakit, maka setelah sembuh, Allah langsung memberi kita hadiah mobil BMW, Mercy, Ferrari dan Rolls-Royce. Andaikata seperti ini yang kita alami, insya Allah kita akan senantiasa sabar dalam menghadapi dan menjalani segala bentuk cobaan.
  • Tatkala seorang anak berbakti kepada orang tuanya, serta merta semua nilai ujiannya mendapat nilai 100 bagi pelajar/mahasiswa dan menerima penghargaan, baik award (piagam/sertifikat) maupun reward (uang/emas batangan).
  • Bagi pelajar/mahasiswa/santri, setelah belajar ilmu apa pun, karena diniati ibadah, maka Allah langsung menyediakan segebok (setumpuk) uang di hadapannya.
  • Ketika seorang istri taat kepada suaminya, secara kontan Allah memberi karunia berupa sutra, perhiasan dan kemewahan lainnya.
  • Selain itu, nanti di akhirat tetap mendapat surga. Amboi, betapa nikmatnya !

Mungkin pertanyaan itu bisa dikatakan agak mirip dengan slogan anak muda sekarang, “Kecil manja, muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga.”

Lama sekali penulis mencari jawaban yang bisa memuaskan diri (bukan hanya teoritis, karena anak muda butuh yang masuk akal juga). Penulis mengaji kitab, membaca buku, mendengarkan ceramah, seminar, konsultasi tentang keislaman dan bertanya dari berbagai sumber. Setelah bertahun-tahun, berikut ini jawaban yang menurut penulis bisa memuaskan, baik dari segi ilmu maupun akal :

  • Syaikh Ibnu Athaillah menerangkan bahwa jika pahala diberikan Allah dalam wujud uang, permata, mobil, saham, obligasi dan sejenisnya, maka dunia tidak akan mampu menampung seluruh pahala yang ada. Dunia ini terlalu sempit untuk menampung semua ganjaran tersebut. Itu kenapa akhirat—yang seluas langit dan bumi—dipilih sebagai tempat membalas semua ibadah yang kita lakukan.

  • Syaikh Ahmad Athaillah berkata lagi, “Demikian juga karena Allah menyayangi kita, sehingga tidak memberi hasil jerih payah kita di tempat yang tidak kekal ini.”

  • M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa jika pahala diberikan Allah di dunia dalam wujud harta kekayaan, maka Allah sungguh tidak adil. Kenapa? Karena Allah memberikan ganjaran yang bersifat fana (tidak kekal). Uang bisa habis dibelanjakan, rusak, hilang bahkan dicuri atau dirampok orang. Sedangkan balasan berupa surga berlaku abadi—selama-lamanya. Itulah bukti bahwa Allah Maha Penyayang (Ar-Rahîm) dan Maha Adil (Al-‘Adl).


    Bukankah kita ingin agar yang kita miliki tidak hilang/musnah? Bukankah sifat dasar manusia adalah menginginkan kepemilikan tetap bahkan selama-lamanya? Itulah kenapa baru di surga semua balasan diberikan.

  • Kalau diinginkan agar di dunia mendapat balasan uang atau perhiasan, sedangkan di akhirat tetap mendapat surga, berarti dunia bukanlah ujian. Padahal, dunia diciptakan sebagai ladang (kebun atau sawah) untuk ditanam, yang dipanen di akhirat kelak.

    ٱلَّذِيْ خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

    Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS al-Mulk [67] : 2)

    Abu Bakar Muhammad bin Ali al-Kattani mengatakan, “Dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan, dan akhirat diciptakan agar manusia bertakwa.”

    Dan, bila tidak ada ujian di dunia ini, sungguh manusia bertabiat mudah bosan dan jenuh serta mendambakan tantangan dan persaingan. Misalkan di sekolah atau kuliah tidak ada ujian. Yang pandai maupun yang bodoh, rajin atau malas, cerdas maupun tidak; semuanya diperlakukan sama yaitu mendapat nilai 100 dan lulus 100%. Apakah itu sebuah keadilan dan bentuk kasih sayang? Pastilah banyak yang akan protes.

  • Semua ibadah yang kita lakukan, sebenarnya untuk diri kita sendiri, bukan untuk kepentingan Allah.

    Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah berpesan, “Ketaatanmu tidak bermanfaat bagi Allah, dan kemaksiatanmu tidak membahayakan-Nya. Sesungguhnya Allah memerintahmu berbuat taat, dan melarangmu berbuat maksiat, karena setiap perbuatan kembalinya kepadamu juga.”

    Dalam pesannya yang lain, Ibnu Athaillah menuturkan, “Tidaklah bertambah kemuliaan Allah karena orang yang datang membawa ketaatan, dan tidak mengurangi kemuliaan Allah orang yang menjauhkan diri dan berpaling dari-Nya.”

    Andaikata semua makhluk bertakwa kepada Allah, itu semua tidak akan menambah sedikit pun keagungan-Nya. Jika seluruh alam semesta durhaka kepada-Nya, hal itu juga tidak akan mengurangi sedikit pun dari kekuasaan-Nya. Kalau Allah menginginkan, maka Allah Maha Kuasa menjadikan manusia umat yang satu dan semuanya bertakwa.

    Sekiranya Allah menghendaki, kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS al-Mâidah [5] : 48)

  • Kalau pahala diwujudkan di dunia ini dalam bentuk harta, maka dosa pun harus diwujudkan. Itulah yang disebut adil.

    Allah akan membalas perbuatan dosa saat pertama kali kita melakukannya. Bukankah sungguh berat hidup seperti itu? Semua aib akan terbuka. Padahal, tidak mungkin manusia tidak berbuat dosa, karena ada hawa nafsu dan bujukan setan. Kecuali Nabi tentunya, yang memang terjaga dari kesalahan atau dosa (ma‘shûm). Namun, karena rahmat-Nya, Allah membiarkannya beberapa waktu, dengan harapan kita akan bertaubat dan kembali, juga agar kita malu kepada-Nya. Rasulullah bersabda :

    كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّائُوْنَ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ الْمُسْـتَغْفِرُوْنَ

    Setiap manusia melakukan kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat dan memohon ampun (istighfar). (HR Tirmidzi)

    لمَـَّا قَضَى اللهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فىِ كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ، إِنَّ رَحْمَتِى غَلَبَتْ غَضَبِى

    Ketika Allah telah selesai mencipta semua makhluk, maka Allah menulis dalam ketetapannya yang ada di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman jiwa-Nya, jika kalian tidak berdosa pasti Allah akan mencabut kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa hingga mereka memohon ampunan Allah, lalu Dia pun mengampuni mereka. (HR Muslim)

Pertanyaan selanjutanya adalah, “Mengapa kita masih didera rasa malas untuk beribadah?” Misalnya :

  • Tiap hari baca Al-Qur'an 1 ruku' (1 maqra')
  • Tiap hari shalat Dhuha 2 rakaat saja

Mengapa kita selalu mengajukan argumentasi untuk tidak melaksanakannya? Apakah karena kita merasa diri pandai berdebat sehingga kita pun berani “mendebat” Allah dan para Malaikat-Nya?

Kenapa kita tidak mau bersabar sejenak untuk menunggu balasan pahala kita? Apakah kita mengira bahwa beribadah hanya membuang-buang waktu, tidak efisien dan sia-sia belaka? Lupakah kita bahwa uang, emas, perhiasan, untaian mutiara, mobil, saham, obligasi, istana yang menjulang tinggi dan bidadari akan kita dapatkan? Tidak ingatkah kita bahwa semua itu tidak hilang, hanya menunggu waktu saja?

Mari kita merenung sejenak. Ketika kita mulai bekerja (misal usia 23 tahun), biasanya perusahaan akan menawari program tabungan pensiun. Tabungan baru bisa diambil ketika kita pensiun. Itu berarti kita harus menunggu selama 32 tahun karena kita baru akan pensiun usia 55 tahun. Kenapa kita mau bersabar menunggu selama itu tanpa bisa menikmatinya segera? Mengapa kita mau menabung tiap bulan demi pensiun kita?

Berdasarkan data, rata-rata usia harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia mencapai usia 69,87 tahun. Untuk laki-laki, harapan hidupnya mencapai usia 67,42 tahun dan untuk perempuan mencapai 72,45 tahun. Kalau kita pensiun usia 55 tahun, berarti hanya +/- 15 tahun kemudian kita akan meninggal.

Nah, kalau kita mau menabung demi pensiun, lalu mengapa kita bermalas-malas diri menabung untuk masa depan kita nan abadi? Apa alasan kita menunda-nunda berbakti kepada Beliau Yang Telah Menciptakan kita?

Kita hanya perlu bersabar sedikit untuk menikmati hasil jerih payah kita dalam beribadah. Tidakkah kita mau melakukannya? Tidakkah kita mau menikmati tabungan akhirat dengan bunga 700% bahkan lebih?

Daftar Pustaka :

  • Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf (Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419
  • Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
  • http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=288756&kat_id=253
sumber :
http://achmadfaisol.blogspot.com

kejayaan yang hakiki

Kunci kejayaan dan kemuliaan yang sebenar ialah taat kpd perintah Allah...
Dalam keadaan susah, dapat taat perintah Allah dan dalam keadaan senang juga taat pada perintah Allah...
Sebaliknya kegagalan dalam hidup Allah tidak dapat taat pada perintah Allah di saat susah dan senang..

...Ingat Allah di saat senang, nescaya Allah akan mengingati kita di saat susah..

Monday, September 8, 2008

Insan kerdil mengadap Tuhan

wahai Tuhan yang maha pemurah
terangilahku dengan Nur imanMu
hanya engkau tempat aku berserah
mohon maghfirah di dalam syahdu

wahai Tuhan yang maha pengasih
ampunilah segala dosa2ku
laksana buih dilaut memutih
hanyut ditelan gelombang nafsu

hari2 yang telah aku lalui
ingin ku tinggalkan terus bersemadi

ingin aku kembali kepada fitrah insani
tak sanggupku jelajahi rimba duniawi
bebaskanlah diriku dari dbelenggu
dosa noda nafsu durjana

terimalah taubatku ya Allah
pimpinlah daku ke jalan redhaMu
moga sinarMu terangi hidupku
didalam kegelapan

aku kan kembali kepadaMu ya Rabbi
mengadapMu ya Rabbul Izzati
segala ketentuanku pasrahkan
dihujung penghayatan

(Part 2) Hindarkan Perkara2 Yg Menjejaskan Kesempurnaan Ibadat Puasa

3. Melakukan perkara-perkara harus namun ia tidak selari dengan rahsia pensyariatan ibadat puasa

Antara tujuan pensyariatan ibadat puasa itu ialah untuk melatih diri seseorang supaya lebih mentaati perintah Allah Subahanahu wa Ta‘ala. Menurut ulama’, berlapar dan berdahaga itu dapat melemahkan dan mengekang nafsu syahwat daripada melakukan perkara- perkara yang ditegah dan perkara-perkara maksiat. Keadaan rasa lapar dan perut yang kosong itu akan memberi kesan yang besar dalam menjernihkan hati seseorang dan seterusnya akan menggiatkan lagi anggota tubuh-badan untuk melakukan amal ibadat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Sebaliknya perut yang kenyang itu akan menyebabkan hati menjadi keras dan mudah alpa daripada mengingati Allah dan ini akan mendorong rasa malas untuk melakukan perintah-perintah- Nya..

Oleh sebab itu, ketika berbuka puasa seseorang itu dituntut agar tidak makan secara berlebihan sehingga terlalu kenyang kerana ini bertentangan dengan maksud dan rahsia ibadat puasa itu sendiri.

Antara perkara-perkara yang tidak selari dengan rahsia ibadat puasa itu juga ialah tidak menjaga diri daripada apa yang dinamakan sebagai perkara-perkara syahwat yang mubah. Syahwat yang dimaksudkan dalam hal ini ialah perkara-perkara yang selalunya menjadi keinginan seseorang dan pada dasarnya hukumnya adalah harus dan tidak membatalkan puasa. Perkara-perkara ini dapat dikategorikan sebagai perkara-perkara yang menyeronokkan sama ada perkara-perkara yang sedap didengar, dilihat, disentuh ataupun dihidu.

Antara contoh perkara-perkara di atas ialah mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan tanpa alat-alat muzik yang haram digunakan, melihat perhiasan-perhiasan atau ukiran-ukiran yang cantik atau sedap dipandang dan juga menghidu minyak-minyak wangi atau benda-benda yang harum.

Atas sebab yang sama seperti di atas, mandi kerana tiada tujuan yang dituntut oleh Syara‘ atau sekadar bersuka-suka pada siang hari bulan Ramadhan juga makruh dilakukan. Bagaimanapun, sekiranya tujuan mandi itu adalah kerana mengerjakan sembahyang Jum‘at, tidak sempat mandi junub sebelum terbit fajar, ingin menghadiri perhimpunan orang ramai, bau badan yang busuk atau seumpamanya, maka mandi atas tujuan-tujuan tersebut tidaklah makruh bahkan dituntut dan disunatkan pula.

Sayugia diingatkan dalam perkara ini, jika majlis yang ingin dihadiri itu diadakan pada sebelah malam, maka menurut pendapat setengah ulama’ adalah lebih baik (disunatkan) mandi pada sebelah malam juga dan bukannya pada siang hari ketika mengerjakan puasa.

Menurut ulama juga, lebih awla (utama) meninggalkan bercalak mata ketika mengerjakan puasa, kerana ia juga merupakan perbuatan berhias-hias dan bersenang-senang yang tidak sehaluan dengan rahsia ibadat puasa itu sendiri.

4. Bersiwak selepas masuk waktu zuhur sehingga sebelum waktu terbenamnya matahari.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu:


Maksudnya: “Bau busuk mulut orang yang berpuasa itu pada hari kiamat lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi.”

(Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Perkataan ‘lebih harum’ dalam hadits ini merupakan pujian dan tanda keredhaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala terhadap orang yang tidak menghilangkan bau mulutnya akibat berpuasa itu. Ini juga membawa maksud bahawa perbuatan membiarkan bau mulut ketika berpuasa itu merupakan satu perkara yang dituntut. Sebaliknya menghapuskannya pula adalah makruh.

As-Sayyid al-Bakri Rahimahullah menyatakan sebab mengapa bersiwak itu makruh setelah masuknya waktu zuhur adalah kerana bau mulut yang terhasil pada waktu itu adalah kesan daripada ibadat puasa yang dikerjakan. Bau mulut yang terjadi sebelum waktu itu pula boleh jadi disebabkan oleh faktor-faktor yang lain seperti kesan makanan atau minuman yang diambil sebelum imsak.

Sesetengah ulama’ berpendapat jika bau mulut bukan disebabkan kesan ibadat puasa semata-mata contohnya bau mulut kerana tidur atau kerana termakan makanan yang berbau busuk secara tidak sengaja, maka tidaklah makruh bersiwak ataupun memberus gigi walaupun selepas masuknya waktu zuhur.

Bagaimanapun, menurut Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah, pendapat yang awjah (lebih tepat) menyatakan hukum makruh itu tetap berlaku sekalipun perubahan bau itu bercampur antara kesan berpuasa dengan kesan faktor yang lain.

Atas sebab yang serupa, maka dapat dikiaskan bahawa memberus gigi selepas waktu tergelincirnya matahari juga makruh. Bagaimanapun, dalam hal ini seorang yang sedang berpuasa mestilah memastikan bahawa air, ubat gigi dan seumpamanya tidak masuk ke bahagian had batin mulut sewaktu memberus gigi kerana jika ini berlaku ianya akan membatalkan puasa.

5. Mengucup isteri atau sebaliknya.

Makruh ke atas orang yang mudah terangsang syahwatnya untuk melakukan persetubuhan atau mudah inzal (keluar air mani) mengucup isteri atau suami pada bibir, mencium pipi dan sebagainya ketika sedang mengerjakan puasa. Perbuatan tersebut makruh kerana ditakuti ia boleh mendorong seseorang untuk melakukan persetubuhan.

Sementara orang yang tidak mudah terangsang syahwatnya pula, meninggalkan perbuatan mengucup bibir isteri atau mencium pipinya adalah lebih utama kerana setiap orang yang berpuasa disunatkan untuk menjauhkan dirinya daripada segala perkara-perkara syahwat.

Menurut al-Imam an-Nawawi Rahimahullah, perbuatan mencium bibir itu termasuk dalam kategori karahah at-tahrim (makruh yang hampir kepada peringkat haram) kerana ia boleh merosakkan ibadat puasa yang dikerjakan.

Juga termasuk dalam perkara-perkara yang mendorong berlakunya persetubuhan atau inzal itu ialah berpelukan, bersentuh-sentuhan kulit tanpa dilapiki oleh sesuatu dan sebagainya. Oleh sebab itu, ulama’ mengkiaskan perkara-perkara tersebut adalah seperti hukum mencium ketika mengerjakan puasa.

6. Berbekam

Berbekam pada dasarnya harus dan tidak membatalkan puasa. Bagaimanapun, meninggalkannya adalah lebih utama kerana perbuatan tersebut boleh melemahkan tubuh badan orang yang berpuasa dan ini akan mendorongnya untuk berbuka.

Makruh juga melakukan perkara-perkara yang seumpamanya, seperti menderma darah di siang hari bulan Ramadhan bagi orang yang sedang berpuasa kerana perbuatan ini boleh melemahkan anggota badan.

Abdul Rahman bin Abu Laila berkata bahawa seorang lelaki daripada kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meriwayatkan:


Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada berbekam dan mengerjakan puasa wishal (menyambung puasa secara berterusan tanpa berbuka di malam hari). Bagaimanapun Baginda tidak mengharamkan kedua-dua perkara itu kerana kasih Baginda terhadap sahabat-sahabatnya.”

(Hadits riwayat Abu Daud)

Penutup

Adalah mustahak bagi setiap Muslim memastikan puasanya itu jauh daripada perkara-perkara yang dilarang walaupun larangan-larangan itu hanya dalam peringkat makruh supaya puasanya itu menjadi suatu puasa yang berkualiti dan bukanlah sekadar menperoleh lapar dan dahaga sahaja.

Sememangnya untuk mengawal diri daripada melakukan perkara-perkara makruh semasa puasa ini memerlukan kesungguhan dan kesabaran yang tinggi. Hanya hamba yang bersifat sabar, ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam mendirikan puasa sahaja yang mampu dan akan berusaha bersungguh-sungguh menjaga anggota zahir dan batinnya daripada melakukan larangan-larangan ini semata-mata kerana inginkan ganjaran yang lebih dan berlipat ganda serta mengharap keredhaan Allah. Orang-orang yang sabar dan ikhlas ini akan Allah Subhanahu wa Ta‘ala kurniakan dengan pahala yang tidak terkira.



Tafsirnya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah sahaja yang akan disempurnakan pahala mereka dengan tidak terkira.”

(Surah az-Zumar: 10)

Abu Sa‘ed al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:



Maksudnya:
“Barangsiapa yang berpuasa bulan Ramadhan dan mengetahui batas aturannya serta menjaga perkara-perkara yang patut dijaga maka dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.”

(Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban)

Melakukan perkara makruh itu walaupun tidak berdosa, namun ia tetap mempunyai nilai larangan dalam menuju kesempurnaan ibadat puasa.


Sunday, September 7, 2008

indahnya ukhuwwah ini



Ketawa dan air mata..
itu sebenarnya ukhuwwah..

moga tabah dan terus tegar+segar+kuat dsb melayari bahtera kehidupan.

Syahid Dijalan Allah

Sesungguhnya hidupku milik Allah...
segalanya milik Allah..
ku mohon padamu Ya Rahman Ya Rahim..
limpahkan rahmatmu padaku...
matlamatku:husnul qatimah..
istiqamah dan ikhlaskan setiap ibadahku padamu...
terimalah semuanya...
pimpinlahku kpd redhamu...

Holocaust::The Jewish Dilemma

Pengenalan

Firman Allah yang bermaksud : “Dan demikianlah Kami adakan dalam tiap-tiap negeri orang-orang besar yang jahat supaya mereka melakukan tipu daya di negeri itu,padahal tiadalah mereka memperdayakan selain dari dirinya sendiri (kerana merekalah yang akan menerima akibatnya yang buruk), sedang mereka tidak menyedarinya.”(Al-An’aam:123)

‘Holocaust’ merujuk kepada peristiwa di zaman perang dunia kedua di mana kononnya enam juta Yahudi dibunuh dalam dewan beracun oleh tentera Jerman,Adolf Hitler melancarkan program pembersihan etnik dan pembunuhan beramai-ramai Yahudi ketika Perang Dunia Kedua di berpuluh kem tahanan di Jerman dan Poland. Kem seperti Dachau, Buchenwald serta kem tahanan lain di Jerman termasuk kem Auschwitz dan kemudahan induknya Birkenau,Stutthof, Treblinka , Chelmno, Sobibor, Majdanek dan Belzec di Poland dianggap sebagai kem maut bagi Yahudi apabila berjuta mati di kem itu.

Banduan Yahudi kononnya disumbat ke dalam bilik sebelum di lepaskan gas beracun, menyebabkan mereka mati serta-merta. Penderitaan masyarakat Yahudi akibat dasar kejam Hitler ini digambarkan dengan ribuan gambar mayat bertimbun-timbun di luar kem tahanan itu.

Kemudian tentera Soviet dan tentera bersekutu, menyelamatkan saki-baki penduduk Yahudi di semua kem di Poland ini dan dibebaskan.

Kisah penderitaan ini dicatatkan dengan penuh dramatic oleh seorang wanita Yahudi menerusi Diari Anne Frank(http://en.wikipedia .org/wiki/ Anne_Frank). Diari ini, yang dianggap catatan peribadi paling menakjubkan berdasarkan kesengsaraan yang dialami, dijadikan teks bagi pelajar dan antara rujukan utama kisah kezaliman terhadap Yahudi.

Dalam rencana halaman 12, The Christian Science Monitor bertarikh 10 Ogos 1994 tulisan Jewess Linda Joffe menyatakan, kira-kira 560 000 Yahudi tinggal di Jerman ketika Nazi berkuasa pada 1933. Hampir semua Yahudi itu dibunuh. Kini, hanya 50 000 Yahudi tinggal di Jerman.

Penderitaan Yahudi inilah diistilahkan sebagai Holocaust atau malapetaka dan kemusnahan besar masyarakat itu ketika Perang Dunia Kedua. Selepas perang dan sehingga kini, rata-rata masyarakat dunia menganggap Nazi dan rejim Hitler adalah manusia paling keji dalam peradaban dunia.

/
============ ========= ========= ====
============ ========= ========= ====
============ ========= ========= ====

-pkpimsiber-

Thursday, September 4, 2008

HINDARKAN PERKARA-PERKARA YANG MENJEJASKAN KESEMPURNAAN IBADAT PUASA



(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Ibadat puasa bulan Ramadhan merupakan peluang untuk umat Islam mengaut pahala serta ganjaran sebanyak-banyaknya. Ia merupakan satu ibadat rahsia dan peribadi antara hamba dengan Tuhannya. Pahala ibadat puasa pula tidak seperti pahala ibadat-ibadat yang lain. Pahala puasa serta ganjarannya tidak terbatas kerana ia adalah hak milik mutlak Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu:


Maksudnya:
“Setiap amal anak Adam itu dilipatgandakan sebanyak sepuluh kali sehingga tujuh ratus kali ganda. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, dia meninggalkan syahwat dan makanannya kerana-Ku. Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan: Satu kegembiraan ketika dia berbuka dan satu kegembiraan lagi ketika dia bertemu Tuhannya. Dan sesungguhnya bau busuk mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau harum kasturi.

(Hadits riwayat Muslim)

Dalam usaha untuk mencapai kebaikan yang telah dijanjikan dalam hadits di atas, seorang itu mestilah menjauhkan diri daripada perkara-perkara yang haram dan juga perkara-perkara yang dimakruhkan semasa berpuasa. Sungguhpun perkara-perkara itu hanya makruh, akan tetapi sebagai seorang Muslim yang ingin puasanya diterima dengan sempurna oleh Allah Ta‘ala, perkara-perkara tersebut mesti dijauhi kerana hukum makruh itu sendiri membawa maksud sesuatu yang dilarang sungguhpun tidak berdosa namun dikurniakan pahala kerana meninggalkannya. Ini dapat membantu seseorang itu supaya dapat menjalani ibadat puasanya dengan lebih sempurna agar ianya selari dengan rahsia dan hikmah pensyariatannya.

Perkara-perkara yang makruh dilakukan semasa berpuasa itu ialah:

1. Meninggalkan adab-adab puasa.

Meninggalkan adab-adab yang dianjurkan dalam ibadat puasa itu bererti melakukan perkara-perkara yang sepatutnya dihindari untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadat tersebut.

Adab-adab puasa itu termasuklah mengerjakan perkara-perkara yang sunat dikerjakan ketika berpuasa selain meninggalkan perkara-perkara yang dituntut supaya ditinggalkan. Perkara-perkara yang sunat dilakukan oleh orang yang berpuasa itu umpamanya ialah menyegerakan berbuka puasa. Menyegerakan berbuka puasa terlebih dahulu sebelum mengerjakan sembahyang Maghrib adalah sunat, kerana ia merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagai contoh lagi bagi perkara-perkara yang disunatkan itu ialah melambatkan waktu bersahur. Kadar waktu yang disunatkan untuk bersahur ialah ketika hampir waktu fajar, iaitu tempoh masanya kira-kira dalam kadar membaca lima puluh atau enam puluh ayat al-Qur’an sebelum terbit fajar.

Daripada Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Umatku sentiasa dalam kebaikan selama mana mereka menyegerakan berbuka puasa dan melewatkan bersahur.”

(Hadits riwayat Ahmad)

Meninggalkan perkara-perkara yang disunatkan sudah tentu kurang menepati apa yang telah dikehendaki oleh syara‘.

Begitu juga makruh melakukan perbuatan-perbuatan yang dituntut oleh agama untuk meninggalkannya walaupun pada dasarnya perbuatan-perbuatan tersebut tidak membatalkan puasa. Perbuatan yang dimaksudkan itu seperti tidak memelihara anggota tubuh badan daripada melakukan perkara-perkara yang tidak berfaedah seperti berbual-bual kosong, berangan-angan yang terlalu panjang dan sebagainya. Meninggalkan perkara-perkara maksiat adalah lebih-lebih lagi dituntut seperti mengeluarkan kata-kata yang ditegah atau haram umpamanya mengumpat, berdusta, memfitnah, berbantah-bantah (berdebat) kerana perkelahian dan bersumpah bohong .

Walaupun meninggalkan perkara-perkara di atas ketika mengerjakan ibadat puasa merupakan perkara sunat, hal ini tidak mengubah kedudukan asalnya sebagai perkara-perkara haram yang wajib dijauhi. Dalam makna yang lain, apabila seseorang menjauhkan dirinya daripada melakukan perkara-perkara di atas, dia akan memperolehi dua pahala; pahala wajib kerana memelihara anggota tubuh-badannya daripada perkara yang haram dan pahala sunat kerana meninggalkan perkara tersebut semasa mengerjakan puasa..

Sebaliknya pula, jika orang yang berpuasa itu tidak memelihara lidahnya daripada perkara-perkara yang keji dan terlarang seperti berdusta atau mengumpat, dia mendapat dosa kerana melakukan perkara yang haram dan dia juga telah menyalahi tuntutan perkara sunat kerana tidak menjaga dirinya daripada perkara-perkara di atas ketika berpuasa.

Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Sesiapa yang tidak meninggalkan kata-kata yang batil (dusta) dan (sebaliknya) melakukannya (pula) maka Allah tidak menghendaki (memerlukan) untuk dia meninggalkan makanan dan minumannya.”

(Hadits riwayat al-Bukhari)

Dalam sebuah hadits yang lain daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


Maksudnya: “Puasa itu bukan sekadar menahan diri daripada makan dan minum, akan tetapi puasa yang sebenar-benarnya ialah menahan diri daripada kata-kata yang sia-sia dan kata-kata yang keji.”

(Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

2. Mendedahkan rongga-rongga anggota badan yang terbuka kepada perkara-perkara yang membatalkan puasa.

Ketika mengerjakan ibadat puasa, menjaga rongga-rongga anggota badan seperti lubang mulut, telinga, hidung, dubur dan sebagainya daripada dimasuki oleh benda-benda yang membatalkan puasa adalah wajib. Oleh kerana itu, mendedahkan rongga-rongga tersebut kepada perkara-perkara yang boleh membatalkan puasa adalah makruh dan perlu dielakkan.

Antara perbuatan-perbuatan yang boleh mendedahkan rongga-rongga anggota badan kepada perkara-perkara yang membatalkan puasa itu ialah mubalaghah atau berlebih-lebihan semasa berkumur-kumur dan memasukkan air ke lubang hidung, menyelam dalam air, mengunyah dan juga merasa makanan dengan lidah.

i. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke lubang hidung ketika berwudhu’ asalnya sunat dilakukan hatta ketika mengerjakan ibadat puasa. Bagaimanapun, berlebih-lebihan dalam perkara tersebut ketika berpuasa adalah makruh. Berlebih-lebihan yang dimaksudkan ketika berkumur-kumur itu ialah memasukkan air ke seluruh bahagian mulut, iaitu mengumur-ngumurkann ya sehingga air sampai ke bahagian langit-langit paling dalam. Manakala berlebih-lebihan semasa memasukkan air ke lubang hidung itu bererti menyedut air dengan nafas hingga sampai ke pangkal hidung (khaisyum).

‘Ashim bin Laqith bin Shaburah Radhiallahu ‘anhu daripada bapanya telah berkata, “Wahai Rasulullah! Terangkan kepadaku tentang hal wudhu”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


Maksudnya: “Sempurnakanlah wudhu’ (iaitu dengan menyampaikan air ke seluruh anggota yang wajib dikenakan air wudhu’), bukalah celah-celah jari-jemarimu, dan bersungguh-sungguhl ah memasukkan air ke dalam lubang hidung kecuali jika kamu sedang berpuasa.”

(Hadits riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Apabila air masuk melalui mulut atau lubang hidung melewati batas yang dibenarkan, iaitu air tersebut masuk ke bahagian had batin mulut (tempat makhraj huruf hamzah (ء) atau ha marbuthah (هـ)) atau melebihi pangkal hidung disebabkan mubalaghah ketika berkumur-kumur atau memasukkan air ke lubang hidung, mengikut pendapat yang ashah (lebih tepat) dalam mazhab asy-Syafi‘i, akan membatalkan puasa walaupun perbuatan tersebut dilakukan dalam perkara-perkara yang dituntut agama seperti wudhu’ dalam bilangan yang wajib ataupun sunat. Jika tidak dilakukan secara berlebih-lebihan puasa tidak menjadi batal asalkan perbuatan itu tidak dilakukan dengan senghaja.

Jika air masuk kerana perkara-perkara yang tidak dituntut agama seperti mengambil air wudhu’ lebih daripada bilangan tiga kali, atau semata-mata untuk membasahkan dan menyejukkan mulut, maka puasa menjadi batal, tidak kira sama ada ia dilakukan secara berlebih-lebihan atau sebaliknya.

ii. Menyelam dalam air akan menyebabkan puasa menjadi batal jika air memasuki rongga-rongga anggota tubuh-badan yang perlu dijaga. Oleh sebab itu, perbuatan tersebut adalah makruh dilakukan sekalipun dalam perkara-perkara yang dituntut seperti mandi wajib atau mandi-mandi sunat.

Jika air masuk dengan tidak senghaja ketika seseorang itu mandi tanpa menyelam dalam air, puasa tidak akan menjadi batal.

iii. Makruh merasa makanan dengan lidah kerana ia boleh menyebabkan makanan tertelan masuk ke dalam perut. Perbuatan itu juga boleh membuka selera makan bagi orang yang berpuasa itu, dan ini boleh membawa kemungkinan yang dia tidak mampu menahan dirinya untuk terus berpuasa.

Bagaimanapun, tidaklah makruh bagi orang yang sedang berpuasa untuk merasa makanan yang dimasaknya jika terdapat keperluan untuk merasa dan memperbaiki makanan yang dimasaknya itu.

Begitu juga makruh mengunyah makanan, kerana di samping sebab-sebab di atas, ia boleh menyebabkan air liur berkumpul dan menjadi banyak. Menurut pendapat jumhur ulama’, air liur yang mempunyai rasa atau bau makanan itu tidak membatalkan puasa, walau bagaimanapun apabila ditelan hukumnya adalah makruh.

Makanan yang dikunyah itu juga boleh menyebabkan orang yang berpuasa merasa dahaga. Di samping itu, bau mulut kesan mengerjakan ibadat puasa yang sepatutnya dijaga boleh menjadi hilang.

Dalam sebuah hadits mauquf, Ummu Habibah Radhiallahu ‘anha berkata:

Maksudnya: “Orang yang berpuasa tidak wajar mengunyah makanan.”

(Hadits riwayat al-Baihaqi)

Bagaimanapun, tidak makruh mengunyahkan makanan untuk dimakan oleh anak kecil jika tidak dapat dielakkan daripada melakukannya, seperti kerana ketiadaan orang lain ataupun tiada cara lain selain daripada mengunyahkannya.

bersambung

pembantu peribadi- KBT1481


KBT1481 ....

bersamaku berjalan menempuh pelbagai dugaan.

Tuesday, September 2, 2008

memulakan diari

alhamdulillah tengah blur2 nak buat tesis, terbuat plak blog..xpernah terfikir pun sblum ni..mgkin diberi kelapangan untuk belajar menulis...sbb memg sedor pun diri ni amat kurang membaca dan tak puitis,kreatif and kristis langsung nak menulis..huhu..moga diberi kekuatan melangkah untuk kehidupan yg baru dan lebih mencabar di masa depan..