Thursday, June 25, 2009

:::Detail Scan:::



Satu Penantian penuh doa...

Wednesday, June 17, 2009

Membina Keluarga Duat

MEMBINA KELUARGA DU'AT: Membiasakan Anak “Hidup Bersama” Al-Qur’an
Zulia Ilmawati (Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)

Setiap orangtua pasti menginginkan buah hatinya menjadi anak yang soleh dan solehah. Anak soleh solehah h merupakan harta yang paling berharga bagi orangtua. Untuk mendapatkan semua itu, tentu harus ada upaya keras dari orangtua dalam mendidik anak. Salah satu yang wajib diajarkan kepada anak adalah segala hal tentang Al-Qur’an karena ia adalah pedoman hidup manusia.

Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya) :
Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan membaca Al-Qur’an karena orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lindungan singgahsana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan- Nya; mereka beserta para nabiNya dan orang-orang suci.
(HR ath Thabrani).

Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.
(QS Al-Isra’[17]: 9)

Sejak kapan Al-Qur’an sebaiknya diajarkan pada anak?

Tentu sedini mungkin. Semakin dini semakin baik. Akan sangat bagus jika sejak anak dalam kandungan seolah-olah calon anak kita itu sudah terbiasa “hidup bersama” Al-Qur’an; yakni ketika sang ibu yang mengandungnya, rajin membaca Al-Qur’an.

7M Agar Anak Selalu Hidup Bersama Al-Qur’an

1. Mengenalkan.

Saat yang paling tepat mengenalkan Al-Qur’an adalah ketika anak sudah mulai tertarik dengan buku. Sayang, banyak orangtua yang lebih suka menyimpan Al-Qur’an di rak lemari paling atas. Sesekali perlihatkanlah Al-Qur’an kepada anak sebelum mereka mengenal buku buku lain, apalagi buku dengan gambar-gambar yang lebih menarik.

Mengenalkan Al-Qur’an juga bisa dilakukan dengan mengenalkan terlebih dulu huruf-huruf hijaiyah; bukan mengajarinya membaca, tetapi sekadar memperlihatkannya sebelum anak mengenal A, B, C. D.

Tempelkan gambar-gambar tersebut ditempat yang sering dilihat anak; lengkapi dengan gambar dan warna yang menarik. Dengan sering melihat, anak akan terpancing untuk bertanya lebih lanjut. Saat itulah kita boleh memperkenalkan huruf-huruf Al-Qur’an.

2. Memperdengarkan.

Memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an bisa dilakukan secara langsung atau dengan memutar kaset atau CD. Kalau ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan, insya Allah memperdengarkan Al-Qur’an akan jauh lebih baik pengaruhnya bagi bayi. Apalagi jika ibunya yang membacanya sendiri. Ketika membaca Al-Qur’an, suasana hati dan pikiran ibu akan menjadi lebih khusyuk dari tenang. Kondisi seperti ini akan sangat membantu perkembangan psikologis janin yang ada dalam kandungan.

Pasalnya, secara teoretis kondisi psikologis ibu tentu akan sangat berpengaruh pada perkembangan bayi, khususnya perkembangan psikologisnya. Kondisi stres pada Ibu tentu akan berpengaruh buruk pada kandungannya.

Memperdengarkan Al-Qur’an bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja; juga tidak mengenal batas usia anak. Untuk anak-anak yang belum bisa berbicara, insya Allah lantunan ayat Al-Qur’an itu akan terekam dalam memorinya. Jangan aneh kalau tiba-tiba si kecil lancar melafalkan surat al-Fatihah, misalnya, begitu dia bisa berbicara.

Untuk anak yang lebih besar, memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an (surat-surat pendek) kepadanya terbukti memudahkan sang anak menghapalkannya.

3. Menghapalkan.

Menghapalkan Al-Qur’an bisa dimulai sejak anak lancar berbicara. Mulailah dengan surat atau ayat yang pendek atau potongan ayat (misalnya fastabiq al khayrat, hudan li an-nas, birr al-walidayn, dan sebagainya). Menghapal bisa dilakukan dengan cara sering-sering membacakan ayat-ayat tersebut kepada anak. Lalu latihlah anak untuk menirukannya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai anak hapal di luar kepala.

Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Orangtua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak. Agar anak lebih mudah mengingat, ayat yang sedang dihapal anak bisa juga sering dibaca ketika ayah menjadi imam atau ketika naik mobil dalam perjalanan. Disamping anak tidak mudah lupa, hal itu juga sebagai upaya membiasakan diri untuk mengisi kesibukan dengan amalan yang bermanfaat.

Nabi saw. bersabda:
Demi Zat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya hapalan Al-Qur’an itu lebih cepat lepasnya daripada seekor unta pada tambatannya.
(HR al-Bukhari dan Muslim).

4. Membaca.

Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitab Allah maka dia.akan mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif-lam-mim adalah satu huruf. Akan tetapi, alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.
(HR at-Tirmidzi) .

Sungguh luar biasa pahala dan kebaikan yang dijanjikan kepada siapa saja yang biasa membaca Al-Qur’an. Bimbing dan doronglah anak agar terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari walau cuma beberapa ayat. Orangtua penting memberikan contoh.

Jadikanlah membaca Al-Qur’an, utamanya pada pagi hari usai shalat subuh atau usai shalat magrib, sebagai kegiatan rutin dalam keluarga. Ajaklah anak-anak yang belum bisa membaca untuk bersama-sama mendengarkan kakak-kakaknya yang sedang membaca Al-Qur’an. Orangtua mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kaidah-kaidah dan adab membaca Al-Qur’an.

Untuk bisa membaca Al-Qur’an, termasuk mengetahui kaidah-kaidahnya, sekarang ini tidaklah sulit. Telah banyak metode yang ditawarkan untuk bisa mudah dan cepat membaca. Ada metode Iqra, Qiroati dan sebagainya. Metode-metode itu telah terbukti memudahkan ribuan anak-anak bahkan orangtua untuk mahir membaca Al-Qur’an. Alangkah baiknya membaca Al-Qur’an ini dilakukan secara bersama-sama oleh anak-anak di bawah bimbingan orangtua. Ketika seorang anak membaca, yang lain menyimaknya. Jika anak salah membaca, yang lain bisa membetulkan. Dengan cara itu, rumah akan selalu dipenuhi dengan bacaan Al-Qur’an sehingga berkah.

5. Menulis.

Belajar menulis akan mempermudah anak dalam belajar membaca Al-Qur’an. Diktetkan kepada anak kata-kata tertentu yang mempunyai makna. Dengan begitu, selain anak bisa menulis, sekaligus anak belajar bahasa Arab. Mulailah dengan kata-kata pendek. Misalnya, untuk mengenalkan tiga kata alif, ba, dan dal anak diminta menulis a, ba da (tolong tuliskan Arabnya, ya: a-ba-da) artinya diam; ba-da-a (yang ini juga) artinya mulai; dan sebagainya.

Sesekali di rumah, coba adakan lomba menulis ayat Al-Qur’an. Berilah hadiah untuk anak yang paling rapi menulis. Jika anak memiliki kemampuan yang lebih dalam menulis huruf Al-Qur’an, ia bisa diajari lebih lanjut dengan mempelajari seni kaligrafi. Rangkaian huruf menjadi suku kata yang mengandung arti bertujuan untuk melatih anak dalam memperkaya kosakata, di samping memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya tentang setiap kata yang diucapkan serta mengembangkan cita rasa seni mereka. Jadi, tidak hanya bertujuan mengenalkan huruf Al-Qur’an semata.

6. Mengkaji.

Ajaklah anak mulai mengkaji isi Al-Qur’an. Ayah bisa memimpinnya setelah shalat magrib atau subuh. Paling tidak, seminggu sekali kajian sekeluarga ini dilakukan. Tema yang dingkat bisa saja tema-tema yang ingin disampaikan berkaitan dengan perkembangan perilaku anak selama satu minggu atau beberapa hari.

Kajian bersama, dengan merujuk pada satu atau dua ayat Al-Qur’an ini, sekaligus dapat menjadi sarana tawsiyah untuk seluruh anggota keluarga. Sekali waktu, tema yang akan dikaji bisa diserahkan kepada anak-anak. Adakalanya anak diminta untuk memimpin kajian. Orangtua bisa memberi arahan atau koreksi jika ada hal-hal yang kurang tepat. Cara ini sekaligus untuk melatih keberanian anak menyampaikan isi Al-Qur’an.

7. Mengamalkan dan memperjuangkan Al-Qur’an.

Al-Qur’an tentu tidak hanya untuk dibaca, dihapal dan dikaji. Justru yang paling penting adalah diamalkan seluruh isinya dan diperjuangkan agar benar-benar dapat menyinari kehidupan manusia. Sampaikan kepada anak tentang kewajiban mengamalkan serta memperjuangkan Al-Qur’an dan pahala yang akan diraihnya. Insya Allah, hal ini akan memotivasi anak.

Kepada anak juga bisa diceritakan tentang bagaimana para Sahabat dulu yang sangat teguh berpegang pada Al-Qur’an; ceritakan pula bagaimana mereka bersama Rasulullah sepanjang hidupnya berjuang agar Al-Qur’an tegak dalam kehidupan.

Wallahu’alam.

Sumber : WJIM Ampang Jaya

Saturday, June 13, 2009

Nasihat Luqman al-Hakim

• Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini
bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam
ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan
karam, layarilah lautan itu dengan SAMPAN yang bernama
TAKWA, ISInya ialah IMAN dan LAYARnya adalah TAWAKKAL
kepada ALLAH.
• Hai anakku; orang - orang yang sentiasa menyediakan dirinya
untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat
penjagaan dari ALLAH. Orang yang insaf dan sedar
setalah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa
menerima kemulian dari ALLAH juga.
• Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan
rendah diri dalam beribadat dan taat kepada ALLAH,
maka dia tawadduk kepada ALLAH, dia akan lebih dekat
kepada ALLAH dan selalu berusaha menghindarkan maksiat
kepada ALLAH.
• Hai anakku; seandainya ibubapamu marah kepadamu
kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya
ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam tanaman.
• Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana
sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu
hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.
• Dan selalulah berharap kepada ALLAH tentang
sesuatu yang menyebabkan untuk tidak menderhakai
ALLAH. Takutlah kepada ALLAH dengan sebenar benar
takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari
sifat berputus asa dari rahmat ALLAH.
• Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang
air mukanya kerana tidak dipercayai orang dan seorang
yang telah rosak akhlaknya akan sentiasa banyak
melamunkan hal hal yang tidak benar. Ketahuilah,
memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih
mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang
tidak mahu mengerti.
• Hai anakku; engkau telah merasakan betapa
beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat
berat, tetapi akan lebih lagi daripada semua itu,
adalah bilamana engkau mempunyai tetangga (jiran) yang
jahat.
• Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang
yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang
yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak
menjadi utusan.
• Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah
dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal
sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat
yang berbahaya.
• Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan,
takziah orang mati atau hadir majlis perkahwinan,
pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab ianya akan
mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedang kan
menghadiri pesta perkahwinan hanya mengingatkan dirimu
kepada kesenangan duniawi sahaja.
• Janganlah engkau makan sampai kenyang yang
berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu
kenyang itu adalah lebih baiknya bila makanan itu
diberikan kepada anjing sahaja.
• Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan
sahaja kerana manisnya barang dan janganlah langsung
memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana
manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu
belum tentu menimbulkan kesengsaraan.
• Makanlah makananmu bersama sama dengan orang
orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan
para alim ulamak dengan cara meminta nasihat dari
mereka.
• Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya
bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau
tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah
bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah
banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih
mahu menambahkannya.
• Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari kawan
sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura
pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu
dia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah
engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak
demikian, maka berhati hatilah.
• Selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu
serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan
disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap
orang lain yang pernah memberikan barang yang
berharga.
• Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah
dirimu padanyasebagai orang yang tidak mengharapkan
sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang
mengharapkan sesuatu darimu.
• Jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku
sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau
mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat
riya~ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.
• Hai anakku; janganlah engkau condong kepada
urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia
saja kerana engkau diciptakan ALLAH bukanlah untuk
dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih
hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.
• Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan
mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta
kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam
diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu
mendatangkan manfaat bagi orang lain.
• Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau
bukan kerana sesuatu yang menggelikan, janganlah
engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah
engkau bertanya sesuatun yang tidak ada guna bagimu,
janganlah mensia siakan hartamu.

• Barang sesiapa yang penyayang tentu akan
disayangi, sesiapa yang pendiam akan selamat daripada
berkata yang mengandungi racun, dan sesiapa yang tidak
dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan
menyesal.
• Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang
alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya
kerana sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan
nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah
dari mutiara kata katanya bagaikan tanah yang subur
lalu disirami air hujan.
• Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar
keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya
untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia
ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau
akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain.
Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta
meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau
makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah
engkau bertemankan dengan orang yang bersifat talam
dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.